Tag Archive: tobat



“Orang tua saya selalu menganggap saya tidak normal, bahkan sebelum saya menjadi seorang muslim,” kata Chatherine Huntley memulai kisahnya menjadi seorang muslimah.

Perempuan asal Bournemouth–sebuah kota di pesisir pantai selatan Inggris–ini mengungkapkan, saat remaja ia banyak menghabiskan waktunya di rumah, menyaksikan siaran televisi. Tidak seperti remaja lainnya yang menikmati akhir pekan dengan berkumpul atau bepergian dengan teman-teman sebayanya………

Baca lebih lanjut

Iklan

Irena Handono Penda’wah Yang Gigih


Dengan senyumnya yang khas ibu Irena menyambut kedatangan kami untuk wawancara. Waktu itu jam menunjukkan pukul 14.30 wib. Tapi tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Beliau meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut. Ternyata pembicaraan di telepon itu cukup lama sehingga sampai masuk waktu Ashar. Kami dipersilahkan untuk sholat Ashar terlebih dahulu. Sementara beliau dengan sabar terus melayani orang yang menelponnya untuk berkonsultasi. Beliaupun setelah itu sholat ashar.

Tepat pukul 15.45 barulah beliau duduk ditemani oleh putrinya untuk diwawancarai oleh voa-islam. Berikut ini wawancara kami dengan beliau. Baca lebih lanjut


 

Balada Gadis Keluarga Ekstrimis Hindu Menuju Hidayah Allah

MUMBAI (Berita SuaraMedia) – Ini adalah kisah dari seorang gadis yang, sebelum memeluk Islam, berasal dari sebuah keluarga yang terkait dengan organisasi ekstrimis Hindu, Shiv Sena. Nama gadis itu Kavita, yang kemudian dia ubah menjadi Nur Fatima setelah masuk Islam.

Nur Fatima lahir di Mumbai 30 tahun lalu namun pengetahuannya tentang Islam masih setara dengan seorang anak Muslim berusia lima tahun. Setelah menempuh pendidikan di Mumbai, Fatima melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas Cambridge. Baca lebih lanjut


Bicaralah yang Baik atau Diam

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Sabda Rasulullah SAW, HR Muslim).

Banyak sekali di antara manusia yang suka berbicara hanya sekadar agar dianggap pintar. Banyak juga yang suka mengumbar kata-kata hanya sekadar menunjukkan eksistensi atau keberadaan diri. Bahkan tak sedikit yang memilih banyak omong dengan alasan agar dunia tak sepi. Jadi daripada saling diam, orang tipe ini berusaha memancing pembicaraan agar suasana hangat dan cair.

Baca lebih lanjut


Maraknya Pacaran Berujung Zina, Kita Punya Tanggung Jawab Dakwah

“Seandainya saja aku bisa mengembalikan waktu dan kembali berpikir sebelum melakukan tindakan yang mengerikan itu. Aku telah terperosok dalam dosa. Lihatlah apa yang telah aku perbuat. Tidak akan ada lagi orang yang mau menerima diriku.”

Keluhan di atas sering muncul berulang kali di dalam benak para pemuda dan remaja yang terlibat dalam kenikmatan semu dari pacaran. Betapa sering mereka yang notabene adalah teman-teman kita diperingatkan bahwa hubungan terlarang itu akan mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca lebih lanjut


Rinduku di Puncak Menara Sujud

menara sujud

Melewati siang dalam kepenatan jiwa
Menyusuri malam dengan kesunyian hati
Gumpalan dosa mengikuti jiwa yang kering
Sesal isak meremas persendian raga

Dalam bulir-bulir waktu
Berkejaran rasa, menjelma menjadi alunan sesak
Tanpa harapan, tiada tujuan
Melangkah dalam kehampaan

Mengejar kebahagiaan semu
Bersama nyanyian tanpa makna
Tertawa lepas di atas altar maksiat
Gelak hati merintih dalam kepedihan

Nun jauh dari naluri suci
Arak memabukkan menari-nari
Tanpa cacat dalam gelas putih
Hingga memabukkan diri ini
Melebur dalam lautan dosa
Malam terasa memekakkan gendang telinga

Masa bergulir melahirkan remang-remang asa
Warna hitam mendung berganti menjadi bianglala indah
Dalam pusaran waktu cinta-Nya menyapa
Mengalir sejuk ke relung jiwa yang  tandus
Jeritan tangis pilu menghampar
Menyesali ruh dan jasad yang tlah tersesat jauh
Hidung tersumbat oleh dosa-dosa masa lalu
Jiwa tertatih ingin berdiri, menggenggam erat Kasih-Nya

Ya Allah,
Dalam kehampaan jiwa
Tlah Kau tuangkan air cinta-Mu
Pada diri yang tlah berlumur dosa
Pada hati yang bersimbah kemunafikan

Ya Allah,
diri malu mengharap ampunan-Mu
Namun kuyakin Engkau teramat Penyayang
Meski hamba-hamba-Mu berserakan dosa

Ya Allah,
dalam sesal tak bertepian
Ku ingin teguh berjalan dalam keridhaan
Rinduku pada-Mu menggelora
Menggebu dalam puncak menara sujud
Genggam jiwa yang sedang meronta
Mengharap luapan dosa Engkau Ampuni
Dalam puncak menara sujud khusyuk pada-Mu
Pasrah ini kugantungkan.

[Yuli Anna Pendamba Surga]

 

Kini Masuk Islam


Sang Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu Kini Masuk Islam

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam. Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.

Daniel StreichStreich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke senatero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.

Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.

Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich.

Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam. Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai.
Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.

Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam.
Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)

Sumber : era muslim.com


Paku di Tiang

 

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat mulai beranjak dewasa menjadi seorang yang lalai menunaikan suruhan agamanya. Meskipun telah berbuih ajakan dan nasihat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa dan lain-lain amal kebajikan, dia tetap meninggalkannya.Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi kebiasaannya.

Kaki judi, kaki botol, dan seribu satu macam jenis kaki lagi menjadi kemegahannya. Suatu hari ikhwah tadi memanggil anaknya dan berkata, “Mat, kau ni terlalu sangat lalai dan berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan pacakkan satu paku tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.”

Bapanya berbuat sebagaimana yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku itu dari tiang.

Hari silih berganti, beberapa bulan purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar.Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang sudah berkarat  karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusunkan dengan paku-paku yang menjijikkan pandangan mata, timbullah rasa malu pada diri Mat.

Maka dia pun berniatlah untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai rajin sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunat-sunatnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnyapun memanggil anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabutkannya keluar sekarang. Tidakkah kamu gembira?” Mat merenung pada tiang tersebut, tapi dibalik melahirkan rasa gembira sebagai yang disangkakan oleh ayahnya, dia mula menangis terisak-isak. “Kenapa anakku?” tanya ayahnya, “aku menyangka tentunya engkau merasa gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada.”Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih parut – parut lubang dari paku itu tetap saja kekal ditiang, bersama dengan karatnya.”

Ghauts Shafa