Category: Kisah Cinta



“Hari gini masih jomlo?” Begitu istilah para remaja kita untuk mengolok-olok temannya-temannya yang tidak punya pacar. Seolah jadi aib jika ada remaja yang tak punya pacar.

Tapi, tahukah anda jika suatu hubungan mesra seperti ini hanya justru menjadikan para wanita tidak sehat?

Sebuah laman http://www.geniusbeauty.com mewartakan,
kesehatan fisik perempuan ternyata dipengaruhi pengalaman buruk di masa lalu. Baca lebih lanjut

Iklan

pernikahan muslimMenikah, tak selalunya tentang kesamaan. Justru karena banyaknya perbedaan disana, manusia belajar banyak hal yang baru dan membarukan hidup mereka.

Banyak dari pasangan suami istri yang setelah beberapa tahun menikah, akhirnya menilai bahwa pasangan mereka bukanlah pasangan hatinya.

Dari sana timbul keinginan untuk menyibukkan diri guna sekedar membunuh waktu dan atau malah ada yang menyia- nyiakan diri untuk jatuh dalam dosa demi kesenangan pribadi. Baca lebih lanjut


Subhanallah, Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam

Yayasan Pengelola Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu (28/5).

Pernikahan mereka sengaja digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan sang pengantin.
Baca lebih lanjut


Perjalanan menuju pernikahan kadang tidak bisa digapai dengan mudah. Seribu satu cerita yang telah diukir sebelum pernikahan terkadang memberikan kesan mendalam sehingga sulit untuk terlepaskan. Akhirnya ketika pernikahan sudah terlaksana, tapi waktu mengikis kesakralan dan makna suci pernikahan itu sendiri karena adanya bayang- bayang masa lalu. Yang tersisa hanyalah kebosanan dan pengikat yang justru mengunci mati hatinya. Pasangan di sampingnya hanyalah berlaku sebagai pelengkap dan pemformal status bahwa dia telah menikah. Sedangkan masalah hati, tentu saja selera mereka telah berubah. Baca lebih lanjut


Kebahagiaan dan kedamaian hati adalah cita-cita utama yang ingin didapatkan setiap pasangan menikah. Disana pula terjalin hubungan emosional yang halal dan menyejukkan. Namun seiring dengan berlalunya waktu, tak jarang kebiasaan nakal perselingkuhan pun muncul dan ikut menyemarakkan lika- likunya. Dan sangat disayangkan ketika hal itu pula lah yang akhirnya banyak membawa seseorang pada titik nadir kehancuran mahligai pernikahannya. Baca lebih lanjut


Janji Bertemu Di Surga

 

 Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata: ”Adalah di Kufah terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani Na-Nakha’. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran.

Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.

Si wanita -akhirnya- mengirim pesan lewat seorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku’. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu:

”Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.” (Yunus: 15)

Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.’

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: ”Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah.

Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu kepada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo’akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya.

Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: ”Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Dia menjawab: ”Sebaik-baik cinta – wahai orang yang bertanya – adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan”.

Pemuda itu bertanya: ”Jika demikian, kemanakah kau menuju?”

Dia jawab: ”Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata: ”Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia jawab: ”Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku minta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah subhanahu wa ta’ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Si Pemuda bertanya: ”Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: ”Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadirat-Nya, meninggal dunia.

Sumber : izizfm.wordpress.com


Anak Kecil Yang Takut Api Neraka

 Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”

Maka berkata anak kecil itu, “Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum” yang bermaksud, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.”
Berkata anak kecil itu, “Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguhnya anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

Ghauts Shafa

Paku di Tiang


Paku di Tiang

 

Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat mulai beranjak dewasa menjadi seorang yang lalai menunaikan suruhan agamanya. Meskipun telah berbuih ajakan dan nasihat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa dan lain-lain amal kebajikan, dia tetap meninggalkannya.Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi kebiasaannya.

Kaki judi, kaki botol, dan seribu satu macam jenis kaki lagi menjadi kemegahannya. Suatu hari ikhwah tadi memanggil anaknya dan berkata, “Mat, kau ni terlalu sangat lalai dan berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan pacakkan satu paku tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.”

Bapanya berbuat sebagaimana yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku itu dari tiang.

Hari silih berganti, beberapa bulan purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar.Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang sudah berkarat  karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusunkan dengan paku-paku yang menjijikkan pandangan mata, timbullah rasa malu pada diri Mat.

Maka dia pun berniatlah untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai rajin sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunat-sunatnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnyapun memanggil anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabutkannya keluar sekarang. Tidakkah kamu gembira?” Mat merenung pada tiang tersebut, tapi dibalik melahirkan rasa gembira sebagai yang disangkakan oleh ayahnya, dia mula menangis terisak-isak. “Kenapa anakku?” tanya ayahnya, “aku menyangka tentunya engkau merasa gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada.”Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih parut – parut lubang dari paku itu tetap saja kekal ditiang, bersama dengan karatnya.”

Ghauts Shafa