Kehidupan tidak  selalunya  menawarkan   kesenangan. Bagi  sebagian  orang, mengakrabi   hati  dan waktu  mereka  dengan  kesedihan   karena  kesulitan   hidup  adalah  sudah  menjadi   hal  lumrah   setiap  harinya. Dan   mereka   membebaskan  kepenatan  hidup  dengan  menangis.

Semua  orang pasti  pernah   merasakan  bagaimana   kesedihan  menyesakkan  dada  mereka. Namun  masih  banyak   dari  kita  yang menilai  bahwa  menangis  itu,  apalagi  bagi   kaum  adam, adalah  hal tabu.

Tabu untuk  diperlihatkan  apalagi  diceritakan. Sisi  harga  diri  mereka  mengatakan  mereka  haruslah kuat, kuat dan kuat. Lucunya  lagi  ketika  dari  mereka  kedapatan  tengah   menangis, merekapun meminta maaf.

Biasanya  masalah  pekerjaan  tidak  akan  membuat  pria  menangis, pun masalah  keuangan. Lalu, apakah yang membuat seorang  suami menjadi menangis? Justru  kekuatan  terbesar  mereka  penyebabnya, yaitu Akal mereka. Karena pria menggunakan  akalnya lah yang menyebabkan  ia menangis. Ia menangis  karena   telah  lelah  dalam  berpikir, sel-sel dalam  otaknya tidak mampu  lagi    untuk   digunakan  berpikir  dalam  menyelesaikan  masalah. Saat ia menangis, jauh  dalam  pikirannya yang ada  hanyalah  air  mata  sebagai solusi.

Dalam  kondisi tersebut, biasanya  justru sang istri dapat  bersikap tegar. Kondisi  ini  berbeda  dengan  keseharian  istri  sebagai seorang wanita yang mudah tersentuh meski  hanya menon ton  sinetron picisan. Hal ini menunjukkan  bahwa  dalam  kekuatan  para pria sebenarnya  wanitalah  yang jauh  lebih  kuat. Terbukti, saat si suami bersedih  bahkan  sampai  menangis  hanya  istrinyalah lah pelipurnya.

Jika akhirnya  suami menangis, mungkin  itu adalah batas  akhir  pertahanan  hatinya untuk  tetap  tegar, maka pahamilah. Mereka  tak akan  membiarkan  tetesan air mata mereka jatuh  dan  menjadi  tontonan orang banyak, kecuali  hanya  dalam  pandangan  orang- orang yang dia sayangi. Disana akhirnya dia  membiarkan  dirinya menjadi  sedikit lemah, maka bersimpatilah.

Lelaki yang menangis  karena  istrinya  adalah  karena s angat  begitu  dalam  menyanyang  wanitanya  itu, maka  pahamilah. Bukan rasa kasihan yang dia harapkan, maka hargailah. Koreksi diri harus dihadirkan sang istri bila para suami menangis  karena mereka. Tangisan itu  mungkin  karena  menangis diam- diam sudah tidak  mungkin lagi. jangan  menunggu  lebih  lama, atau penyesalan  yang akan didapat saat kita harus  menyampaikan  “MAAF”.

Seperti  halnya  seorang  istri  yang bisa membuat para suami menangis, disisi lain kehadiran  separoh  jiwanya tersebut di sudut  jiwa  mereka, mampu  meredam  kesedihan yang  sangat dr sang suami. Dan itu adalah tugas tercantik para kaum hawa.

Air mata  tidak  selalunya  menggambarkan  kelemahan  dan penurunan  harga diri  seorang  suami. Bahkan  para suamipun  adalah  manusia biasa, jangan   berikan  label apapun atas   kemanusiawiannya itu. Biarkan  mereka  membebaskan  perasaan  mereka dengan  menangis. Hanya  berikan  sedikit  interupsi  bila  air  mata  itu keluar  disaat  yang kurang tepat.

Mungkin  ada  baiknya  juga  untuk para suami, jangan  pernah  malu  untuk  menangis, karena keluarnya air mata  dapat mengurangi  resiko terkena  serangan  jantung & stroke. Air mata  dapat  melepaskan  segala  beban  yang selama  ini ada  di pundak. Disana juga  mengandung  arti ujian bagi ketulusan hati  pasangan anda dalam menyikapi  kesedihan  anda tersebut. Tapi, tentu saja  jangan  keterusan  menangis  karena pasti  orang akan bingung anda pria atau wanita. (Syahidah).  

Sumber : voa-islam.com

Iklan