Pengadilan Akhirat

Dalam sebuah hadis dijelaskan, bahwa pernah seorang wanita ternama dari suku Makhzumi mencuri pada zaman Rasulullah SAW. Keluarganya mencoba mendapatkan keringanan hukuman dari Rasul SAW. agar tidak diterapkan atasnya hukuman potong tangan. Mendengar dan melihat gelagat mereka, beliau marah sambil berkata,

Wahai manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena mereka menerapkan hukum secara ‘tebang pilih’. Ketika yang mencuri itu dari kalangan terhormat, mereka membiarkannya. Namun, jika yang mencuri itu dari kalangan lemah (rakyat jelata), mereka menerapkan hukuman atas mereka. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, bahkan seandainya Fathimah anak kesayangan Muhammad mencuri, pasti Muhammad akan memotong tangannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Secara tersurat, sabda Baginda Rasulullah SAW. di atas menegaskan, bahwa saat hukum diberlakukan secara tidak adil hanya berpihak kepada yang kuat dan cenderung menzalimi yang lemah maka kehancuran masyarakat pasti akan terjadi. Kenyataannya,  saat ini apa yang disinggung Rasulullah saw. di atas benar-benar terjadi. Di alam sekularisme yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini, keadilan menjadi semacam barang mewah yang musykil bisa dinikmati oleh rakyat kecil dan lemah; ia seolah hanya milik para pejabat dan mereka yang punya duit.

Di negeri ini rakyat kecil yang mencuri benda senilai beberapa rupiah saja bisa dijerat hukuman beberapa bulan. Sebaliknya, para pejabat yang punya kuasa atau mereka yang punya duit bisa bebas melenggang dari jeratan hukuman meski mereka menilep miliaran hingga triliunan uang negara.

Itulah pengadilan di dunia; sebuah pengadilan semu, bahkan palsu; pengadilan yang menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil; pengadilan yang hukumannya tidak akan mampu menghapus dosa-dosa para kriminal; pengadilan yang para penegak hukumnya bermental bobrok, tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT, mudah dibeli,  serta gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya.

Mereka seolah lupa, bahwa meski mereka lihai mempermainkan hukum di dunia, dan meski mereka sering lepas dari pengadilan manusia di dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukuman di Pengadilan Akhirat. Allah SWT berfirman:  (Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju Mahsyar); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (TQS Ghafir [40]: 16 -17).

Mereka lupa, bahwa di dunia boleh saja mereka bisa lepas dari jeratan hukum. Namun, di akhirat mereka mustahil bisa lari dari hukuman dan azab Allah SWT. Tentu saja karena di Pengadilan Akhirat, dengan Allah sebagai Hakimnya, tidak akan ada sogok-menyogok, beking-membekingi atau kongkalingkong. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan Keperkasaan-Nya. Di Pengadilan Akhirat semua ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya; tak ada yang terlewatkan, kendati hanya sebesar biji sawi (TQS al-Zalzalah [99]: 7-8).

Di Pengadilan Akhirat tak satu pun yang dapat menolong. Di sana seluruh harta, anak, jabatan dan apa saja yang dibanggakan di dunia ini tidak akan berguna sama sekali. Hanya hati yang selamat (qalb[un] salîm) yang dapat menolong (TQS asy-Syua’ra’ [26]: 8889).

Setiap manusia maju sendiri-sendiri di hadapan Pengadilan Allah Yang Maha adil untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya (TQS Maryam [19]: 95). Siapapun tidak akan bisa lolos dari hukuman. Mereka tidak akan bisa berbohong dan berkelit. Sebab, mulut-mulut mereka terkunci, sementara anggota tubuh mereka (tangan, kaki, telinga, mata dan kulit) menjadi saksi (TQS Yasin [36]: 65).

Para pendosa akan menerima sik-saan yang amat pedih (QS al-Kahfi [18]: 26). Saat itu orang-orang kafir pun begitu takutnya terhadap azab di akhirat ini. “Pada hari itu, orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul menginginkan agar mereka diratakan saja dengan tanah. Mereka takkan dapat menyembunyikan satu kejadian pun (dari Allah).” (TQS an-Nisa’ [4]: 42).

Allah menegakkan timbangan di Pengadilan Akhirat nanti dengan akurat.  “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat sehingga tiada dirugikan seseorang barang sedikitpun (TQS al-Anbiya’ [21]: 47).

Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya (TQS al-A’raf [7]: 8-9). Allah adalah Zat Yang Mahaadil dan tidak pernah menganiaya hamba-Nya sedikitpun. Hanya orang-orang Mukmin yang memiliki harapan akan datangnya rahmat Allah yang akan menyelamatkan nasib mereka pada hari yang paling menentukan itu. Semoga kita termasuk di dalamnya.

[] arief b. Iskandar

Sumber : Media Umat.com

Iklan