Ketika Wanita Menjadi Pemimpin


ketika wanita menjadi pemimpin“Selamat ya, hebat lho, bisa ngalahin semua cowok disekolah kita,” kata Handy ketua osis tahun lalu sambil mengulurkan tangannya pada Syifa. Dengan sopan Syifa mengatupkan kedua telapak tangannya dan kemudian mengangguk pada Handy.

”Ah biasa-biasa saja lagi Han, begitu aja lo pikirin, elo bantuin gue ya selama periode ke depan, gue gak ngerti apa-apa ni”, demikian suara Syifa merendah.

Dan dengus Handy terlihat jelas, sambil tidak melirik sedikitpun, Handy meningalkan Syifa yang termangu diam melihat sosok punggung Handy yang dengan gaya ditegap-tegapkan melangkah keluar aula sekolah.

Yaa, hari ini Syifa resmi sudah dinobatkan sebagai ketua OSIS yang baru dan satu satunya kandidat permpuan yang berhasil masuk pada putaran ke 3. Syifa mengalahkan saingan terakhir, Handy siswa terbaik kelas II IPA 3, sekaligus mantan ketua OSIS periode lalu yang menang mutlak tanpa gangguan.

Lambat-lambat Syifa mendengar bisikan kawan-kawan perempuannya yang memberi semangat pada Syifa, ”Biarin Syif, jangan terlalu dipikirin, cowok emang gitu enggak mau dikalahin sama cewek, emang kenapa sekali – sekali kita jadi pemimpin..emang dia aja yang bisa menjadi ketua OSIS!

Awalnya memang menyenangkan, karena Syifa semakin terkenal, kawannya dimana-mana, semua anak tahu Syifa, undangan acara apapun Syifa diajak, dan kegiatannya semakin banyak membuat Syifa semakin larut dalam kesibukan.

Syifa mengerahkan kekuatannya sebagai seorang anak perempaun yang cenderung bisa mengerjakan apa saja. Hmm, perempuan memang detail, apa aja kepikiran, sehingga semua kegiatan yang dipelopori oleh Syifa membuat hasilnya menjadi bagus dan selalu rapih tak ada satupun yang tertinggal, dan pujian dari para guru kerap terdengar, namun ketika akhirnya Syifa memerlukan bantuan, jarang sekali anak lelaki yang mau membantu Syifa mengangkat apapun.

Sampai berpeluh, Syifa dengan Anida mengangkat 2 tumpuk kartun besar berisi majalah sekolah dan buku-buku pelajaran yang akan disumbangkan ke SMU Bakti yang terkena gempa di Padang.

Dalam diam Syifa berdoa sungguh-sungguh, apa salahku Ya ALLAH, dan jawabnya terletak dalam Al Qur’an yang sudah lama tidak dibaca Syifa. Syifa membuka Al – Qur’an surah An Nisa : Arrijaalu qowammu ala niisa. Yang artinya ; Setiap lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Syifa pun terdiam, haruskah aku undurkan diri dari jabatan ini Ya ALLAH…?

Yang manakah yang aku pilih, tetap sebagai pemimpin di sekolah ini sesuai amanah yang diberikan kawan-kawan yang telah memilihku atau menyerahkan kepemimpinanku pada anak lelaki seperti yang tertuang dalam surah annisa.

Sumber : Era Muslim

Iklan