Haji Mhd. Dachlan, Si Pitung Dari Bekasi


Pengantar dari Redaksi:
Profil Haji Mhd. Dahlan ini pernah dimuat di media cetak seperti majalah Sabili dan dalam media online seperti Swaramuslim.net. Swaramuslim mengangkat Haji Mhd. Dachlan dengan beberapa pertimbangan, antara lain beliau adalah pejuang Angkatan 1945 dari Bekasi, yang hingga kini terus berjuang melawan kemiskinan.

Kali ini VOA-ISLAM mengangkatnya karena kepedulian beliau kepada Islam dan totalitasnya tanpa mengharapkan ‘wajah’ manusia dalam beramal shalih. Di usia yang telah menginjak 82 tahun pada tahun 2009 ini tetap membuatnya semnagat dalam berdakwah di daerah miskin yang jaraknya hanya 2-3 jam saja dari Jakarta, seperti Tanjung Air, Kramat Batok, Singkil, Sungai Kramat, Poncol di wilayah Bekasi dan daerah Sukaresmi, Jonggol, Kabupaten Bogor.

Tak hanya itu, atas kelapangan hati beliau, kantor perwakilan berita Islam, http://www.voa-islam.com, pun menempati rumah Haji Mhd Dachlan dan Ibu Hajjah Husnul Khotimah di pusat kota Bekasi, yakni disamping Masjid Agung Kodya Bekasi, Masjid Al Barkah.

Beliaulah icon philantrophy sejati dari Bekasi, meski beliau tidak begitu peduli dengan sebutan tersebut dan bahkan tidak begitu suka atas publikasi. Akan tetapi kami angkat profil Haji Mhd. Dachlan, yang juga Ketua Dewan Syuro Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia – Bekasi, agar menjadi ibrah bagi kita semua.

Semoga Allah Azza Wa Jala menerima amal dan kebaikan beliau, dan semoga Allah mudahkan kita sebagai generasi muda untuk dapat mengkuti langkah dakwah beliau, insya Allah. Amieen.

———————————————————————

Keterbelakangan warga masyarakat di kawasan Bekasi Utara yang akut, membuatnya tak tinggal diam. Tujuh tahun ia terjun ke gelanggang, berkeringat dalam dakwah dan menyantuni kemiskinan.

Suatu hari, tujuh tahun yang lalu, kala hujan rintik-rintik turun dari langit. Haji Dahlan sedang menyalurkan hobinya memancing ikan di sebuah aliran sungai di wilayah Bekasi Utara. Di tengah keasyikannya memancing, nuraninya terusik oleh pemandangan menyedihkan.

Seorang anak kecil dilihatnya menggigil kedinginan di pinggir jalan yang tak jauh dari sungai itu.. Maka, diputuskannya untuk segera pulang ke rumahnya di pusat Kota Bekasi guna mengambil beberapa lembar sarung untuk dibagi-bagikan ke beberapa warga yang membutuhkan.

Usai membagikan sarung, seorang warga menuturkan kepada Haji Dahlan, bahwa banyak warga yang lebih menderita lagi di daerah itu. Mulai saat itu, pria 76 tahun ini bergerilya ‘mengintip’ warna-warni kemiskinan. Subuh esok harinya, ditemuinya beberapa orang sedang ngobor, mencari ikan tidur, burung atau biawak untuk dimakan atau dijual murah. Kepada para pemburu itu, Dahlan menawarkan harapan baru, “Bisa nggak kalian berpikir tentang masa depan kalian?” Karena kondisi ekonomi sangat minim, enam orang pun menerima bantuan berupa perahu kecil dan jala untuk mencari ikan. Menyusul kemudian 12 orang dibantu peralatan serupa untuk menjadi nelayan laut. Kebanyakan dari mereka sebelumnya adalah nelayan tanggung yang hanya mencari ikan di sungai dan muara saja, tak berani mengarungi laut lepas.

Di hari lain, Dahlan memberikan bantuan usaha kepada para peternak ikan berupa 10.500 ekor lele, di samping jaring dan bambu. Namun, akibat kolam-kolam ikan kemasukan air laut, ikan-ikan pun mati dan gagallah usaha perikanan itu. Para warga sebelumnya tidak berterus-terang kalau air di daerahnya masih mudah tercampur air laut saat pasang. Dahlan hanya mengurut dada atas atas kejadian itu. Sebuah gambaran keluguan warga yang menggenapi kemiskinannya, gamblang di depan mata. Paduan kemiskinan dan keluguan yang di mata Dahlan sangat ironis, mengingat daerah itu termasuk tak jauh dari kota Metropolitan Jakarta. Ia menggambarkan, jika orang ‘utara’ melongok ke barat, tampaklah segera gedung-gedung tinggi di Tanjung Priok.

Rasa miris akan kemiskinan warga, menuntunnya terus menelusuri berbagai pelosok di Bekasi utara. Kemiskinan begitu nyata terbentang di Kecamatan Tambelang, Muara Gembong, Jabang Bungin, Sukawangi, Tarumajaya dan Babelan. Rata-rata daerah itu masuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kendati tak jauh dari pusat Kabupaten dan Kota Bekasi, namun beberapa kecamatan tersebut seperti terisolasi dalam beberapa hal. Selain masalah kemiskinan, soal pendidikan pun tertinggal. Di beberapa daerah, susah sekali mencari lulusan SLIP, apalagi SLTA. Dahlan pernah mengalami kesulitan mencari tenaga yang bisa menulis untuk mengelola koperasi yang didirikan. Koperasi itu sendiri ditujukan untuk menjadi altematif warga dari jeratan lintah darat.

Persoalan kesejahteraan warga sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor alam. Di daerah-daerah itu air termasuk langka. Untuk mendapatkannya, warga di Sasak misalnya, mereka mengandalkan sumur-sumur yang banyak tercampur air asin. Di saat hujan, warga mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Jika kemarau datang, sebagian warga terlihat menggunakan air genangan dalam ceruk-ceruk tanah di sawah. Dari ceruk-ceruk itu, air diambil dan diendapkan di wadah penampungan di rumah masing-masing. Tampaknya pemerintah daerah setempat tak banyak memperhatikan soal kekurangan air warganya. Dahlan pun lalu tergugah membangun sumur-sumur dalam yang bisa menghasilkan air tawar di 22 tempat, selama tujuh tahun. “Apa urusannya Dahlan membuatkan sumur warga?! Mestinya ini urusan lurah, camat atau bupati,” cetus Dahlan menyindir pemilik otoritas setempat.

Dahlan memang tak mau tanggung-tanggung untuk menemani keterbelakangan orang-orang ‘bawah’, begitu warga menyebut daerah Bekasi Utara. “Keberadaan Pak Haji di wilayah kami, betul-betul dirasakan. Maaf, mungkin tak berlebihan, bila bupati Bekasi itu Pak Dahlan,” tutur Misbahul Munir, Pimpinan Pesantren Al-Khoirot Desa Kerangkeng, Kecamatan Babelan. Munir melanjutkan, orang-orang ‘bawah’ tak kenal orang kota, kecuali Pak Haji. Tentu saja guyonan itu tak berlebihan. Melihat sepak terjangnya, mungkin Anda ingat sosok Si Pitung yang hidup di masa kolonial Belanda. Keberadaan Si Pitung diyakini berasal dari kawasan yang kini disebut Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Daerah itu kebetulan bersebelahan dengan Bekasi Utara. Sosok Si Pitung sangat dekat dengan warna pembelaan terhadap kesengsaraan rakyat kecil, Muslim yang taat dan tanpa pamrih.

Haji Dahlan begitu prihatin melihat kemiskinan agama yang mengikuti kemiskinan materi. Karena kondisi minimnya pemahaman agama, tak sedikit juga orang tak mengenal shalat dan pengetahuan tentang Islam. Dahlan sempat dibuat geleng-geleng kepala demi melihat ketidaktahuan warga di Kramat Batok tentang Idul Adha sebagai hari raya Islam. Mereka selama ini mengetahui Idul Adha sebagai Lebaran Tuan Haji, itupun tanpa pelaksanaan shalat Id bersama. Banyak dari mereka baru bisa menikmati daging korban, setelah Dahlan dan KOMPAK DDII membagi-bagikannya.

Totalitas Dahlan dalam soal dakwah memang tak bisa dianggap enteng. Dalam tujuh hari yang dimiliki, pria berputra 16 orang dari dua isteri ini, menyisihkan setidaknya empat hari dalam seminggu untuk mengisi pengajian di Bekasi Utara. Jangan harap bisa ditemui di rumahnya di hari-hari Senin, Rabu dan Sabtu pagi hari. Kamis malam pun, ia masih menyumbangkan waktu untuk berdakwah. Selama tujuh tahun, ia berhasil mendirikan bangunan-bangunan sangat sederhana untuk kegiatan madrasah atau majelis taklim, selain masjid untuk melengkapi kegiatan dakwahnya di beberapa kampung atau desa.

Dakwah Dahlan sebenarnya memadukan dakwah bil lisan (dengan lisan) dan bil hal (dengan perbuatan). Selain mengisi pemahaman Islam, ia juga menyantuni warga dengan sembako bagi semua anggota jamaahnya secara berkala. Ia pun acapkali memberi pinjaman lunak untuk keperluan membuka usaha dengan syarat mau ikut pengajian. Ternyata efektif, terbukti banyak jamaah yang bisa dibina terus setidaknya di enam tempat. Setlap majelis, tergabung sejumlah anggota di antaranya berjumlah 320, 275, 300, 120 dan 200 keluarga. Namun, sempat pula ia dibuat pusing oteh warga yang menjadi target dakwahnya. Di Kampung Hutan Ringin, Cabang Mungi, ada orang sekampung belum shalat. Dahlan menyiapkan beras untuk dibawa ketika akan memulai pengajian di kampung tersebut dengan bantuan seorang guru agama yang tinggal di situ. Belum sempat rencana dijalankan, ada warga yang mencegah rencana Dahlan. Setelah diusut, mereka beralasan, kampungnya dikhawatirkan ‘bernasib’ sama dengan kampung sebelah, Kramat Batok. Maksudnya, Kramat Batok telah berhasil di-Islamkan oleh Dahlan, sehingga warga mau menjalankan shalat, termasuk shalat Tarawih di bulan suci Ramadhan. Sebelumnya, warga Kramat Batok juga suka memuja-muja keramat (kuburan). Misalnya saja, saat menjelang tanam padi atau habis panen, mereka meminta izin kepada leluhur di kramat. Lantas, mereka memotong kepala kerbau untuk ditanam, lalu dagingnya dimakan warga sekampung untuk pesta tujuh hari tujuh malam. Pesta itu juga ditingkahi dengan judi dan adu ayam.

Hingga kini, Dahlan mengaku merasa belum berhasll menemukan metode menembus rintangan dakwah seperti yang ditemui di Hutan Ringin. Rintangan lain dalam dakwah dai yang dibesarkan oleh Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam dan Pelajar Islam Indonesia ini pun beragam. Kadang, ia merasa lucu karena harus berhadapan dengan para ustadz lokal yang berbeda pandangan. Ada ustadz yang suka menggunakan akik untuk kesembuhan berbagai penyakit. Ada ustadz yang hanya menjadi tukang membca manakib. Ada pula ustadz yang bertugas membaca riwayat Syeh Saman, tokoh legenda rakyat yang dikultuskan. Dahlan cuma mengkhawatirkan dampak dakwah para ustadz tersebut pada kelurusan akidah. Namun, berkat prinsip pantang menyerahnya, ia selama tujuh tahun berhasil menyiapkan kader-kader santri dan mengkoordinasikan para ustadz di Bekasi Utara untuk mengembangkan dakwah. Hingga kini, sekitar 50 orang dibinanya secara rutin setiap bulan sekali.

Urusan santun-menyantun kaum dhuafa, memang bukan asing dalam diri pria kelahiran Jakarta, 10 Februari 1928 ini. Di belakangnya, sebelum terjun ke Bekasi Utara, telah berdiri 14 yayasan yang bergerak di bidang pendidikan Islam dan panti asuhan. Dengan yayasan itu, pihaknya memberikan pelayanan pendidikan terjangkau bagi kaum lemah di Kota dan Kabupaten Bekasi serta di Jakarta Timur. Lalu dari mana Dahlan yang penampilannya bersahaja ini menghidupi yayasan dan kegiatan dakwahnya? Ia mengaku, ada saja mengalir rizki dari berbagai usahanya untuk dibagi. Bahkan, sudah ada lembaga usahanya yang habis untuk dakwah. Selain itu, ada saja lembaga atau perorangan yang turut menyumbang. Namun, Dahlan selalu mengajak para penyumbang ke lokasi-lokasi yang disantuni, agar penyumbang tahu kondisinya secara langsung.

Uban telah meliputi seluruh rambutnya, keriput membalut jangatnya. Namun, ia masih segar dan lincah untuk menuruti ghirah dakwahnya yang masih menyala-nyala. Hanya saja, ia tak bisa menutupi rasa kecewanya karena belum ada orang yang mau terjun seperti dirinya. Ia ingin banyak ‘kopian’ dirinya, memiliki harta untuk diinfakkan dalam dakwah sekaligus terjun langsung sebagai dai. Terlebih untuk daerah seperti Bekasi Utara. “Dakwah bil hal itu, ya Allah, luar biasa hasilnya. Luar biasa! Namun belum ada orang yang terbetik hatinya untuk mencobanya,” ungkap Dahlan menegaskan harapannya di akhir perbincangan.

Hery D. Kurniawan
Majalah SABILI No. 117 TH. XI 12 Maret 2004 / 20 Muharram 1425 hal. 74-77.

Sumber : voa-islam.com


Bookmark and Share

Iklan